Selasa, 27 Desember 2011

ANALISIS PUISI

ANALISIS PUISI BERDASARKAN STRATA NORMA INGARDEN DALAM SAJAK-SAJAK CHAIRIL ANWAR


DISUSUN OLEH

Nama: Elsy Susanti
NPM : 106210789
Kelas : 3G


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
TAHUN
2011/2012




KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, bimbingan, dan hidayahnya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan guna memenuhi tugas perkuliahan ,yaitu mata kuliah “Puisi”.
Shalawat serta salam marilah kita persembahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad saw  ,semoga kita termasuk kedalam golongan umat yang mendapatkan safaatnya di yaumil mahsyar kelak ,amin  ya rabbal alamin.
Makalah ini berjudul “Analisis Puisi berdasarkan Strata Norma Sajak-Sajak Chairil Anwar. Makalah ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis menerima kritik dan saran dengan lapang hati.
Semoga makalah ini  dapat menambah pengetahuan kita, khususnya selaku penulis, dan disini penulis mengucapkan ribuan maaf, sekiranya nanti dalam penulisan makalah ini ada yang kurang  jelas atau kurang tepat. Akhir kata kepada Allah mohon ampun dan kepada saudara/saudari penulis mohon maaf.


                                                                                    Pekanbaru, 19 Desember 2011
                                                                                   
                                                                                    Penulis


                                                                                               




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................v
DAFTAR ISI.....................................................................................................................vii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.      Latar Belakang......................................................................................................1
2.      Perumusan Masalah.............................................................................................2
3.      Tujuan Penulisan..................................................................................................3
BAB II TEORI dan METODE........................................................................................ 4
BAB III PEMBAHASAN..................................................................................................5
1.      Datang dara, Hilang dara.....................................................................................5
2.      Derai-derai Cemara............................................................................................11
3.      1943.......................................................................................................................13
4.      PENGHIDUPAN.................................................................................................17
5.      Diponegoro...........................................................................................................20
BAB IV PENUTUP..........................................................................................................23 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................24









BAB I PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu prosa, puisi, dan drama.  Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. Karya-karya sastra lama yang berbentuk puisi adalah Mahabharata, Ramayana dari India yang berbentuk puisi atau kavya (kakawin) (Waluyo, 2003: 1). Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang  padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Walaupun singkat dan padat, tetapi berkekuatan. Karena itu, salah satu usaha penyair adalah memilih kata-kata yang memiliki persamaan bunyi (rima). Kata-kata itu memiliki makna yang lebih luas dan lebih banyak (Ibid, 2003: 1).
Puisi yang baik lazimnya menawarkan serangkaian makna kepada pembacanya. Untuk menangkap rangkaian makna itu, tentu saja pembaca perlu masuk ke dalamnya dan mencoba memberi penafsiran terhadapnya. Langkah dasar yang dapat dilakukan untuk pemahaman itu adalah ikhtiar untuk mencari tahu makna teks. Sebagai sebuah teks, puisi menyodorkan makna eksplisit dan implisit. Makna eksplisit dapat kita tarik dari perwujudan teks itu sendiri; pilihan katanya, rangkaian sintaksisnya, dan makna semantisnya. Pilihan kata atau diksi menyodorkan kekayaan nuansa makna; rangkaian sintaksis berhubungan dengan maksud yang hendak disampaikan. Adapun makna implisit berkaitan dengan interpretasi dan makna yang meyertai di belakang puisi bersangkutan (Mahayana, 2005: 260).
Dalam memahami sajak / puisi diperlukan analisis-analisis tertentu, seperti dalam makalah ini yang akan menganalisis “Kumpulan sajak Chairil Anwar yang menggunakan analisis strata norma. Untuk menganalisis puisi setepat-tepatnya perlu diketahui wujud dari puisi itu. Oleh karena itu, puisi atau sajak harus di mengerti sebagai struktur norma-norma.
Pemakalah berharap besar dalam adanya analisis strata norma “Kumpulan sajak Chairil Anwar” ini mampu menjadi penawar bagi pembaca yang sempat teracuni oleh sajian sastra yang ada, sehingga para penikmat puisi senja ini tidak lagi keracunan terutama dalam memakai karya-karya Chairil Anwar, namun mengerti dan memahami bahwa karya sastra memang tidak ada yang berubah secara menyeluruh, hanya saja mengelupas dari kulit aslinya, dan membuat kulit yang baru, dimana kulit baru itu suatu saat nanti juga akan mengalami hal serupa, terkelupas oleh kulit-kulit barunya yang lain namun sesungguhnya tetap saja berdaging sama.
Pemaknaan dalam puisi berarti setiap pembuatan puisi selalu dilandasi dengan proses pencarian makna sang penyair tentang kehidupan ini untuk kemudian dituliskan, hingga terbentuklah sebuah puisi. Sedangkan, emosi adalah salah satu aspek dalam puisi yang berarti segala hal dalam diri manusia berkaitan dengan perasaan senang ataupun sedih yang dijadikan landasan untuk membuat sebuah puisi. Bahasa dalam proses pembuatan puisi erat sekali kaitannya dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang melakukan satu-satunya proses komunikasi melalui media bahasa. Hal ini pula yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Lalu, ada imaji, yang merupakan “gambaran-gambaran kata” yang sangat konkret, berkaitan dengan panca indera seperti sentuhan, bau, rasa, suara, gerakan, dan terutama apa yang terlihat. Imaji membuat pembaca mendapat pengalaman akan sesuatu dengan jelas.
Puisi merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya diperlukan analisis agar dapat diketahui bagian-bagian serta jalinannya secara nyata. Untuk menganalisis puisi dengan tepat, perlu diketahui wujud sebenarnya dari puisi tersebut. Menurut Rene Wellek (1968:150), puisi adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Oleh karena itu, puisi harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. Norma itu harus dipahamai secara implisit untuk menarik setiap pengalaman individu karya sastra dan bersama-sama merupakan karya sastra yang murni sebagai keseluruhan.
2.      Tujuan Penulisan
Dalam makalah ini bertujuan untuk menganalisis sajak-sajak Chairil Anwar dengan menggunakan analisis puisi berdasarkan strata norma. Analisis strata norma bertujuan untuk mengetahui ; bunyi-bunyi atau pola bunyi, untuk mengetahui satuan arti, untuk mengetahui objek-objek yang dikemukakan dalam puisi, untuk memberikan pandangan mengenai keduniaan yang dinyatakan pengarang di dalam karyanya, untuk mengetahui sifat-sifat metafisis dalam puisi yang dapat memberikan renungan kepada pembaca. Dengan demikian, semuanya itu digunakan untuk mendapatkan gaya kepuitisan atau nilai seni yang terdapat pada “Kumpulan sajak-sajak Chairl Anwar dengan mengupas sajak-sajak seperti sajak “Siap Sedia”, “Derai-Derai Cemara”, “1943”, “Penghidupan”, “Diponegoro”.
3.      Manfaat penulisan
Dapat memberikan pengetahuan bagaimana analisis puisi berdasarkan strata norma menurut Roman Ingarden, Karya sastra yang di analisis dengan beberapa lapis-lapis norma. Selain itu, dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang adanya semangat perjuangan yang terdapat dalam diri Chairil Anwar, seperti pada sajaknya “Diponegoro”. Selain itu, dapat memberikan pengalaman kepada para pembaca agar lebih mengerti tentang karya sastra tersebut. Dan juga, dapat memberikan motivasi kepada pembaca untuk lebih mengenal karya sastra.













BAB II TEORI DAN METODE
Karya sastra itu tidak hanya berupa satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa lapis norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya. Rene Wellek (1968:51) menganalisis norma-norma itu sebagai berikut :
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Jika orang membaca puisi, maka yang terdengar itulah yang merupakan rangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Namun, suara itu bukan hanya suara yang tak memiliki arti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa yang disusun sedemikian rupas sehingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara tersebut, orang yang mendengarnya dapat memahami artinya. Lapis bunyi ini kemudian menimbulkan lapisan di bawahnya, yaitu lapis arti.
Lapis norma kedua adalah lapis arti (units of meaning) merupakan rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya merupakan satuan-satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi alinea, bab, dan keseluruhan cerita ataupun sajak. Rangkaian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, yaitu berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia pengarang yang berupa cerita atau lukisan. Lapis-lapis norma tersebut dikemukakan Rene Wellek (1968:151) berdasarkan analisis Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia, yang menuliskan perihal lapis norma tersebut dalam bukunya Das Literarische Kunstwerk (1931). Romna Ingarden juga menambahkan dua lapis noma lagi, yang kemudian dianggap oleh Wellek dapat dimasukkan dalam lapis yang ketiga dan keempat. Lapis tersebut adalah lapis dunia dan lapis metafisis.
Lapis keempat adalah dunia dipandang sebagai suatu hal yang tak perlu dinyatakan, karena sudah terkandung dalam sebuah puisi. Sebuah peristiwa dalam sastra dapat dikemukakan atau dinyatakan “terdengar” atau “terlihat” dapat memperlihatkan aspek “luar” atau “dalam watak tokoh. Sebagai contoh, pintu berbunyi halus dapat memberikan sugesti bahwa yang membuka pintu memiliki watak sangat hati-hati. Lalu, kondisi kamar yang terlihat dapat memberikan sugesti watak orang yang tinggal di dalamnya.
Kemudian lapis yang terakhir adalah lapis metafisis, yang merupakan lapisan yang memiliki sifat-sifat metafisis, yaitu sublim, tragis, mengerikan atau menakutkan, dan suci. Sifat-sifat ini dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca. Namun, tidak setiap puisi memiliki lapis metafisis tersebut.
BAB III PEMBAHASAN
1.      SIAP-SEDIA
Tanganmu nanti tegang kaku,
Jantungmu nanti berdebar berhenti,
Tubuhmu nanti mengeras batu,
Tapi kami sederap mengganti, terus memahat ini tugu.

Matamu nanti kaca saja,
Mulutmu nanti habis bicara,
Darahmu nanti mengalir berhenti,
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.

Suaramu nanti diam ditekan,
Namamu nanti terbang hilang,
Langkahmu nanti enggan ke depan,
Tapi kami sederap mengganti,
Bersatu maju, ke Kemenangan.

Darah kami panas selama,
Badan kami tertempa baja,
Jiwa kami gagah perkasa,
Kami akan mewarna di angkasa,
Kami pembawa ke Bahgia nyata.

1. LAPIS BUNYI/LAPIS SUARA
Lapis bunyi dalam sajak adalah semua satuan bunyi yang didasarkan atas konvensi bahasa tertentu. Lapis bunyi dalam puisi mempunyai tujuan untuk menciptakan efek puitis dan nilai seni. Mengingat Bunyi dalam sajak bersifat estetik yang berfungsi untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Dengan kata lain bunyi juga memilki fungsi sebagai alat penyair untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya. Dalam sejarah puisi, bunyi pernah menjadi unsur kepuitisan yang paling dominan (utama) pada sastra Romantik (abad ke-18 dan 19). Bahkan Paul Verlaine, seorang simbolis, mengatakan bahwa musiklah yang paling utama dalam puisi. Slametmuljana menambahkan bahwa tiap kata (dalam puisi) menimbulkan asosiasi dan menciptakan tanggapan di luar arti yang sebenarnya. (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 22).
 Dalam bait pertama sajak Siap sedia, terdapat kombinasi vokal (asonansi) bunyi a dan u,: tanganmu, kaku, jantungmu, batu, tubuhmu, terus, maju. Selain itu juga adanya aliterasi r: berdebar, berhenti, mengeras, sederap, terus.
Pada bait kedua, adanya kombinasi bunyi-bunyi asonansi a, liquida r, l.
Matamu nanti kaca saja,
Mulutmu nanti habis bicara,
Darahmu nanti mengalir berhenti,
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.
Di bait ketiga, adanya bunyi sengau m, n, ng.
Suaramu nanti diam ditekan,
Namamu nanti terbang hilang,
Langkahmu nanti enggan ke depan,
Tapi kami sederap mengganti,
Bersatu maju, ke Kemenangan.
Bait keempat adanya asonansi bunyi a:
Darah kami panas selama,
Badan kami tertempa baja,
Jiwa kami gagah perkasa,
Kami akan mewarna di angkasa,
Kami pembawa ke Bahgia nyata.
Bait-bait puisi di atas dikombinasi dengan bunyi asonansi a, u.
2.      LAPIS ARTI
Lapis arti (units of meaning) ialah arti yang terdapat dalam tiap satuan sajak. Mulai dari fonem, kata, kalimat dan seterusnya (Rachmat Djoko Pradopo, 2002: 17). Lapis arti digunakan untuk memaknai puisi secara lebih lengkap dengan membuat sebuah puisi dengan bahasa yang padat menjadi sebuah prosa yang lebih jelas menceritakan isi puisi. Dalam bait pertama diceritakan bahwa angkatan para pejuang yang telah gugur dan jasa-jasa mereka diabadikan dengan membuat tugu atau monumen sebagai tanda jasa bagi mereka.
Bait kedua, meskipun sebagai pengingat, hanya sebuah tugu itu merupakan sebagai tanda jasa untuk para pejuang. Dan kami para generasi penerus akan meneruskan perjuangan tersebut untuk menjadikan masyarakat menuju kekehidupan yang merdeka.
Bait ketiga, meskipun suaramu telah tiada, tetapi namamu tetap terukir menjadi pahlawan kemerdekaan. Dan kami akan meneruskan perjuanganmu dengan bersatu untuk maju dan menuju kemenangan.
Bait keempat, dengan jiwa dan semangat juang yang tinggi yang telah teruji akan membawa kepada kebahagiaan yang nyata, yaitu kemerdekaan.
3.      LAPIS KETIGA
Lapis berikutnya adalah lapis ketiga. Lapisan ini muncul setelah menganalisis lapis artis arti. Wujud dari lapis ketiga ialah objek-objek yang dikemukakan di dalam sajak, latar, pelaku dan dunia pengarang. (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 18). Dalam sajak Siap Sedia, lapis itu berupa:
a.) Objek-objek yang dikemukakan antara lain : tanganmu, jantungmu, tubuhmu, batu, tugu, matamu, mulutmu, darahmu, masyarakat, kaca, suaramu, namamu, darah, badan, baja, angkasa, bahgia.
b.) pelaku atau tokoh : kami
c.) latar tempat : di angkasa
d.) Dunia pengarang : cerita dan peristiwa, yang merupakan dunia yang diciptakan oleh si pangarang. Dan itu merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur cerita, seperti:
Para pahlawan yang telah gugur dan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan nama mereka diabadikan, ada yang dijadikan sebagai tugu, dan digunakan sebagai pengingat. Dan meskipun para pahlawan telah tiada atau gugurkami siap untuk melanjutkan atau menggantikan perjuangan beliau, yaitu dengan terus berupaya untuk mewujudkan masyarakat yang merdeka. Dan bahkan, kami siap untuk menggantikan para pejuang pahlawan dengan bersatu dan maju untuk kemenangan yaitu kemerdekaan RI. Segala kemampuan untuk menggantikan para pejuang telah teruji dan tertempa. Kami akan mewujudkannya dengan dengan membawa kebahagiaan yang nyata yaitu kemerdekaan RI.
4.    LAPIS KEEMPAT
Lapis keempat adalah lapis pembentuk makna dalam sajak, lapis ‘dunia’ yang tidak perlu dinyatakan, namun sudah ‘implisit’ (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 18-19).
Dunia yang tidak perlu dinyatakan tetapi sudah implisit tampak sebagai berikut:
pada bait pertama, si kami memahat tugu yang bibuat untuk mengenang jasa para pahlawan.
Bait kedua, menyatakan si kami siap untuk menggantikan posisi para pahlawan yang terus berjuang untuk menuju kemenangan.
Bait keempat, menyatakan bahwa si kami akan membawa kebahagiaan yang nyata.
5.    LAPIS KELIMA
Terakhir dari lapisan pembentuk makna dalam puisi ialah lapis kelima. Lapisan ini disebut juga lapis metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi (Rachmat Djoko Pradopo, 2002; 19).
 Dalam sajak ini, lapis itu berupa pengungkapan tanda jasa para pahlawan kemerdekaan yang telah gugur. Dan nama-nama mereka tetap abadi. Dan sekarang para penerus yang melanjutkan perjuangan beliau dengan bersatu untuk mewujudkan kebehagiaan nyata yaitu mewujudkan masyarakat yang jaya atau merdeka.
2. Derai-derai cemara
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
A. LAPIS BUNYI
dalam puisi bunyi bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahaan dan tenaga ekspresif. Pola sajak yang terdapat pada sajak “Derai-derai Cemara” a-b-a-b.
Pada bait pertama adanya kombinasi bunyi asonasi a, i, dan bunyi sengau: m, n,ng.
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
Pada bait kedua, bersuasana berat dalamnya mengandung bunyi a,u yang dominan.
Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini
Serta adanya bunyi sengau ng, ny, n, m: sekarang, orangnya, tahan, bukan, kanak, memang, bahan, yang, bukan, perhitungan.
Bait ketiga, adanya asonansi i, a, e:
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam
seperti pada bait tersebut yang difungsikan oleh penyair untuk menyatakan ketidakmampuan dia menghadapi kenyataan yang akan datang. Diksi tersebut sangat kental dengan aroma kematian dan kepasrahan. Karena, semula Chairil A. yang selalu menggunakan kata-kata yang bersemangat pada puisi-puisi sebelumnya, kini mulai menyadari akan arti hidup dan penyakitnya Tema pada puisi ini adalah kesadaran akan perjalanan hidup yang selalu akan berakhir dan tak dapat dipungkiri bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
B. LAPIS ARTI
lapis arti berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti (Joko Pradopo, 2010:15).
Bait pertama, menyatakan meskipun liku-liku perjalanan hidup itu panjang, tetapi pada suatu saat pasti akan berakhir. Dan hal itu menjadi kesadaran akan perjalanan hidup yang pasti akan berakhir walaupun belum tahu persis kapan berakhirnya kehidupan itu datangnya. Yang pasti tak dapat dipungkiri bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
 Bait kedua: yang berarti, si aku pada saat ini bukanlah anak-anak lagi. Tetapi si aku sekarang sudah menjadi sosok yang dewasa yang sudah mamiliki rasa bertanggung jawab.
Bait ketiga, menyatakan bahwa sebenarnya hidup itu hanya menunda-nunda kekalahan. Yang pada akhirnya apabila telah datang waktunya kita semua pasti akan menyerah, yaitu menyerah pada kematian yang datang menjemput.
 C. LAPIS OBJEK
Objek objek yang ada dalam puisi ini adalah : aku, pohon cemara, angin, dahan, cinta, dan sekolah.
Pelaku atau tokoh : si aku
Latar waktu : malam hari
Latar tempat : rumah

D. LAPIS DUNIA
Lapis ini yang dipandang dari dari titik pandang tertentu yang tidak perlu dinyatakan, tetapi terkandung di dalamnya atau sudah tampak.
Bait pertama, perjalanan hidup yang akan merapuh dan berakhir. Karena begitulah perjalanan kehidupan manusia.
Bait kedua, si aku bukalah anak-anak yang biasanya hanya bermain-main. Tetapi aku telah berubah menjadi sosok yang dewasa penuh dengan tanggung jawab.
Bait ketiga, hidup ini penuh dengan penderitaan, sebelum pada akhirnya kita menyerah pada kematian.
E. LAPIS METAFISIS
lapis metafisis, berupa sifat-sifat metafisis (yang sublim, yang tragis, mengerikan ataumenakutkan dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni dapat memberikan kontemplasi pada pembacanya (Joko Pradaopo, 2010:15).
Pada puisi ini lapis metafisis berupa kesadaran akan perjalanan hidup yang pastinya akan berakhir dan tak dapat dielakkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan menyerah, yaitu menyerah pada kematian.

3. 1943
Racun berada di reguk pertama
Membusuk rabu teras di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam membelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku

1. LAPIS BUNYI
Karena pentingnya peranan bunyi ini dalam kesustraan, maka bunyi ini pernah menjadi unsur kepuitisan yang utama dalam sastra romantik, yang timbul sekitar abad ke-18, 19 di Eropa Barat (Selametmuljana, 1956:56).
Pembahasan lapis bunyi hanyalah ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni.
Pada baris pertama, ada asonansi a dan aliterasi r: racun berada di reguk pertama.
Di baris kedua adanya asonansi a dan u: membusuk rabu terasa di dada.
Pada baris ketiga ada asonansi a: tenggelam darah dalam nanah.
 Pada baris keempat adanya asonansi a dan aliterasi m: malam kelam membelam.
Pada baris kelima ada kombinasi asonansi a, u, dan konsonan tidak bersuara k, p, t, s: jalan kaku lurus.
Pada baris keenam dan tujuh adanya bunyi sengau m, n: candu, tumbang.
 Pada baris kedelapan ada asonansi a: tanganku menadah patah.
 Pada baris kesembilan hingga baris kedua puluh enam, adanya asonansi u, e, a:
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku
Jadi, di dalam sajak ini yang paling dominan adalah asonansi vocal berat a dan u:
Racun berada di reguk pertama
Membusuk rabu teras di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam membelam
Jalan kaku-lurus. Putus

2. LAPIS ARTI
Baris 1-5 menyatakan bahwa suasana yang sangat tidak enak. Suasana tersebut sama seperti halnya pada saat indonesia di jajah oleh jepang. Kihidupan pada masa itu yang penuh dengan penindasan kekejaman dan kezaliman.
Pada baris keenam hingga baris ketiga belas, penyair mengungkapkan bahwa dirinya larut dalam hiruk pikuk suasana itu, ia hanya bisa pasrah dan berdoa tetapi semua itu hanya sia-sia saja.
Pada baris kesembilan belas setelah berusaha dengan berdoa tetapi hasilnya tidak ada atau tampak, penyair pun berusaha lagi dengan penuh semangat untuk bangkit dan melawan. Meskipun dengan jiwa yang tidak berdaya, tetapi tetap tidak menyerah.
Namun demikian keadaan tetap tak berubah. Maka penyair pun menyadari bahwa itulah takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

3. LAPIS DUNIA
Menceritakan suasana yang dirasakan sangat tidak enak, sangat pahit. Sama seperti halnya pada masa penjajahan Jepang terhadap indonesia. Dan mengungkapkan bahwa penyair larut dalam suasana itu. Dengan selalu memberikan pengharapan dan berdo’a dan penyair pun dengan penuh semangat bangkit memberontak. Tetapi semua usaha-usaha tersebut hanya sia-sia, dan penyair hanya bisa pasrah dengan takdir yang telah di tetapkan oleh Tuhan.
4. LAPIS METAFISIS
Dalam sajak ini lapis metafisis yang terkandung berupa, Suasana yang sangat tidak enak dan sangat pahit. Suasana itu, ia hanya pasrah, hanya berdo’a, tetapi tidak ada hasilnya. Meskipun ia tak berdaya, jiwanya tetap tidak menyerah. Namun demikian keadaan tetap tidak berubah. Maka ia pun hanya menyadari bahwa itulah takdir yang telah ditetapkan Tuhan.

Contoh :
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Susunan karya sastra begitu kompleksnya, unsur-unsurnya yang membentuk keseluruhan karya sastra begitu kompleksnya, erat berjalinan. Sebuah karya sastra merupakan suatu sistem norma. Sebab itu, untuk memberi penilaian karya sastra tak dapatlah ditinggalkan pekerjaan menganalisis atau menguraikan karya sastra itu kedalam unsur-unsurnya atau sistem normanya.
4. PENGHIDUPAN
Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita

Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam
Kurnia bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindungi, sia-sia dipupuk.
 (1) LAPIS SUARA (Sound Stratum)
            Sajak tersebut berupa rangkaian satuan suara, yaitu suara suku kata, kata, kelompok kata dan suara kalimat. Satuan-satuan suara itu adalah satuan suara berdasarkan sistem bunyi bahasa. Misalnya satuan suara suku kata: lau-tan, ma-ha, da-lam, bah-gia, dan sebagainya. Satuan suara kata: hingga, tenaga, dentur, setumpuk, dan seterusnya. Satuan-satuan suara tersebut berangkai hingga merupakan keseluruhan suara sajak itu. Tetapi dalam karya sastra khususnya puisi, disamping satuan suara berdasarkan konvensi bunyi bahasa, ada satuan-satuan suara berdasarkan konvensi sastra (puisi) yang bersifat khusus, seperti asonansi, aliterasi, pola sajak (awal, dalam, tengah dan akhir), kiasan suara dan orkestrasi. Semua itu untuk mendapatkan efek kepuitisan atau nilai seni. Satuan-satuan suara yang khusus tersebut sebagai berikut.
            Dalam bait pertama adanya asonansi a, u dan aliterasi m, n, ng serta bunyi liquida l, r. Sehingga menimbulkan bunyi yang merdu (efoni). Misalnya pada bait:
Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
            Bait kedua adanya kombinasi bunyi-bunyi tidak merdu, parau, dan penuh dengan bunyi k, p, t, s atau bunyi konsonan tidak bersuara. Sehingga menimbulkan bunyi kakofoni. Dan bunyi kakofoni ini memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau balau, serta tidak teratur, dan bahkan memuakkan.
Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam
Kurnia bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindungi, sia-sia dipupuk.
Pola sajak akhirnya: a-b-b: bahagia-setumpuk-dipupuk. Kombinasi asonansi, aliterasi, dan sajak akhir merupakan orkestrasi yang merdu dan berirama. Sedangkan bunyi konsonan tak bersuara menimbulkan adanya kombinasi bunyi kakofoni. Dengan Begitulah, unsur bunyi dapat memperdalam arti, memperjelas tanggapan, dan memperdalam perasaan.

(2) LAPIS ARTI (Units of Meaning)
Fonem, suku kata, kata, kelompok kata, dan kalimat dalam sajak tersebut merupakan satuan-satuan arti. Akan tetapi, dalam sajak satuan arti minimum adalah kata, dan satuan terluas adalah kalimat. Arti kata-katanya adalah arti leksikal seperti dalam kamus. Akan tetapi, dalam puisi (karya sastra) ada arti lain berdasarkan konvensi sastra, misalnya arti kiasan.
Dalam bait pertama:
 Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
Yang berarti hidup itu merupakan bagian dari ujian. Seperti ombak di lautan selalu datang silih berganti, yang mewarnai keindahan lautan. Dan demikian juga hidup.
Pada bait kedua:
Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam
Kurnia bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindungi, sia-sia dipupuk.
Yang berarti ujian-ujian  yang datang baik yang kecil maupun ujian yang besar sekali pun, itulah yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan.
 (3) LAPIS OBJEK
Lapis satuan-satuan arti menimbulkan lapis yang ketiga, yaitu objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang.
Objek-objek yang dikemukakan berupa: lautan, tenaga, dentur, hancur, remuk, redam, kurnia, bahgia.
Pelaku atau tokoh: si kita
Latar waktu: sekarang, selamanya. Latar tempat: lautan.
Dunia pengarang disini adalah peristiwa, cerita, ataupun gambaran angan-angan yang diciptakan oleh pengarang. Dunia pengarang ini merupakan penggabungan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku dengan perbuatannya, dan peristiwa-peristiwa yang ditimbulkan.

(4) LAPIS DUNIA
Lapis “dunia” yang tidak usah dinyatakan, tetapi sudah tersirat atau implisit itu, sebagai berikut.
Dipandang dari sudut tertentu, yaitu dari objek-objek: lautan, tenaga, dentur, hancur, remuk, redam, kurnia, bahgia.
Bait pertama: menyatakan bahwa penghidupan merupakan penguji bagi kita.
Bait kedua: dan untuk mencapai penghidupan yang bahagia itu, paasti tentunya di lalui dengan ujian atau cobaan yang akan menjadi warna di dalam kehidupan.
 (5) LAPIS METAFISIS
Lapis kelima adalah lapis metafisik yang menyebabkan pembaca berkontemplasi atau merenungkan apa yang dikemukakan dalam sajak. Dalam sajak ini dikemukakan bahwa di dalam perjalanan kehidupan manusia itu pastinya ada diselingi atau di lalui dengan ujian-ujian. Meskipun harus dengan remuk redam.

5. DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang
1.      LAPIS BUNYI/ LAPIS SUARA
Bunyi di samping sebagai hiasan dalam puisi, juga mempunyi tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam ucapan, untuk menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya.
Dalam puisi di atas adanya kombinasi antara bunyi vokal (asonansi) : a, i dengan bunyi sengau (nasal) : m, n, ng menimbulkan bunyi yang merdu dan berirama (efoni). apiBunyi-bunyi merdu dalam sajak ini memperkuat efek semangat juang dan pengorbanan. Seperti pada bait:
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
Pola sajak akhirannya a-a-b-b. Seperti pada bait:
Maju
Serbu
Serang
Terjang

2.      LAPIS ARTI
Puisi itu adalah unsur yang kompleks. Puisi itu mempergunakan banyak sarana kepuitisan secara bersama-sama untuk mendapatkan jaringan efek yang sebanyak-banyaknya (Altenbern, 1970: 4-5). Karena puisi itu merupakan struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya (atau untuk memberi makna) harus dianalisis (Hill, 1966: 6). Dengan dianalisis itu diketahui unsur-unsurnya yang bermakna atau yang harus diberi makna.
Bait pertama: kekaguman pengarang terhadap sosok diponegoro. Yang mana beliau hadir disaat bangsa indonesia sedang mengalami masa-masa pembangunan menuju kemerdekaan. Dan melihat begitu bergairahnya sang pangeran mempertahankan hidup ini. Dengan tanpa rasa takut, tanpa rasa bimbang,meski lawan yang dihadapi banyak sekalipun.
Bait kedua: bagi sang pangeran seakan-akan semua permasalahn hidup ini sudah beliau alami. Meskipun tahu bahwa dia akan kehilangan hidupnya sang pangeran tetap tegak tak gentar dihadapan lawan banyaknya seratus kali. Karena kemerdekaan adalah lebih tinggi dari kehidupan itu sendiri. Dan dengan bersenjatakan pedang dan keris dan bersandarkan akan semangat yang terus berkobar dan tidak pernah padam. Beliau bersama barisan pasukannya terus bergerak untuk melawan.
Bait ketiga: keyakinan sang pangeran untuk melawan penjajah meskipun nyawa menjadi taruhannya. Hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan dan hidup hanya sekali. Untuk itu lakukanlah hal yang berarti demi bangsa indonesia.
Bait keempat: sang pangeran berjuang untuk tanah air yang identik dengan kemerdekaan. Dan belliau berprinsip lebih baik punah dari pada hidup menghamba, lebih baik binasa dari pada hidup tertindas. Beliau harus merasakan hal itu, yang baru setelah beliau menemui ajalnya
Bait kelima: dengan semangat yang tinggi m ereka bersemboyan “Maju, Serbu, Serang, Terjang”, demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa indonesia.
3.      LAPIS OBJEK
Objek yang dikemukakan: lawan, pedang, keris, api, negeri, barisan, ajal, tanda, mati, hidup, pembangunan.
Pelaku atau tokoh: tuan Diponegoro
Latar waktu: di masa pembangunan
Latar tempat: di depan sekali, medan perang, suatu negeri
Dunia pengarang: peristiwa, cerita, serta mengenai kekaguman pengarang terhadap tokoh. Dunia pengarang ini merupakan cerita kekaguman pengarang terhadap sosok Diponegoro. Yang selanjutnya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh sang tokoh.
4.      LAPIS DUNIA
Lapis dunia sudah implisit atau tampak, seperti pada bait pertama: dipandang dari sudut pandang tertentu tuan Diponegoro hadir dimasa pembangunan.
Pada bait kedua: tuan Diponegoro terus maju untuk melawan musuh tanpa rasa gentar dan takut.
Bait ketiga: berjuang demi kemerdekaan negeri, karena hidup hanyalah sekali.
Bait keempat: dari pada hidup harus terus dijajah dan ditindas lebih haik mati saja.
Bait kelima: semangat yang terus maju untuk melawan dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa indonesia.
5.      LAPIS METAFISIS
Lapis metafisis merupakan renungan kebulatan pikiran atau perhatian seutuhnya yang menyebabkan pembaca terkontemplasi. Dalam sajak ini lapis ini berupa semangat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air Indonesia dari belenggu-belenggu penjajah (lawan). Tanpa gentar dan hanya bermodalkan semangat juang yang tinggi dan terus menanamkan semangat-semangat juang kepada para barisan-barisan pejuang.















BAB IV PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis strata norma Roman Ingarden pada “Kumpulan sajak Chairil Anwar” dapat disimpulkan bahwa, baik tidaknya karya sastra dapat dinilai setelah unsur-unsur atau sistem norma karya sastra diuraikan terlebih dahulu. Sistem norma karya sastra terdiri dari beberapa lapis norma, diantaranya; lapis suara, lapis arti, lapis objek, lapis “dunia” dan lapis metafisika.
SARAN
Berdasarkan analisis di atas, dapat dilihat bahwa proses analisis terhadap sebuah karya, dalam hal ini puisi, harus melibatkan segala aspek yang memungkinkan untuk digunakan. Tidak bisa didikotomikan antara analisis berdasarkan lapis norma saja atau semiotika belaka. Namun, proses analisis harus melibatka keduanya. Hal ini dilakukan agar dapat mengurai isi sebuah puisi, hingga dapat ditemukan maksud yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Hal ini juga dilakukan agar sebuah puisi tidak kehilangan fungsi estetiknya.









DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Zaenal. 1996. Edisi Kritis Puisi Chairil Anwar. Cetakan I. Jakarta: Dian Rakyat.
Pradopo, Rahmat Djoko, 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/oase-budaya-diponegoro.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar